Ariel Sharon, Pemimpin Israel Yang Dilaknat Allah

Bisnissatu.com - Ariel Sharon, Pemimpin Israel Yang Dilaknat Allah

Ariel Sharon, Pemimpin Israel Yang Dilaknat Allah

Siapa yang tidak tahu peristiwa Pembantaian Sabra dan Shatila?

Pembantaian Sabra Shatila, tercatat sebagai peristiwa yang sangat mengerikan dalam sejarah Palestina. 

Banyak korban yang berjatuhan akibat peristiwa mengerikan ini, mulai dari wanita, lansia hingga anak-anak yang tak tahu apa-apa juga menjadi korban.

Sabra dan Shatila sendiri merupakan dua kamp pengungsian milik Palestina yang berlokasi di Beirut, Lebanon. 

Para pengungsi dari Palestina dan Lebanon yang berada di kedua kamp ini menjadi korban dari penyerangan milisi Israel.

Sebanyak kurang lebih 3.500 warga Palestina dan Lebanon yang menjadi korban penyerangan tersebut. Sebagian besar korbannya ialah wanita, anak-anak, dan lansia.

Penyerangan ini dilakukan oleh kelompok milisi dibawah komando Menteri Pertahanan Israel (saat itu), Jenderal Ariel Sharon.

Dalam penyerangan itu, Sharon menggunakan berbagai macam cara untuk mengakhiri hidup warga Palestina di kamp pengungsian.


Tangan Ariel Sharon dalam Pembantaian Sabra dan Shatila

Tanggal 16 hingga 18 September, 3 hari tersebut menjadi kenangan tersendiri bagi masyarakat Palestina. 

Selama tiga hari itu, pembantaian Sabra Shatila yang berlangsung dari 16 September 1982 terjadi.

Pembantaian ini dimulai ketika tentara ‘Israel’ yang dipimpin Menteri Pertahanan Israel, Ariel Sharon, mengepung Sabra dan Shatila lalu membiarkan para milisi Kristen Maronit Libanon yang dipimpin Kaum Falangis membantai semua pengungsi di dalamnya.


Siapakah Ariel Sharon, Pemimpin Israel Yang Dilaknat Allah?

Siapa yang tak kenal Ariel Sharon. Dia merupakan mantan perdana menteri Israel, seorang pemimpin kejam yang tangannya berlumuran darah rakyat Palestina.

Ariel Sharon punya sejarah hidup yang tak bisa lepas dari konflik pendudukan zionis terhadap tanah Palestina.

Sosok Airel Sharon adalah simbol dari kebiadaban itu.

Di panggung politik Timur Tengah dan internasional, Ariel Sharon, pemilik nama lengkap Ariel Scheinermann ini merupakan figur yang sangat kontroversial.

Ariel Sharon dilahirkan di Kfar Malta, Palestina, pada 27 Februari 1928. Sedari kecil, ia sudah didoktrin oleh keluarganya sendiri untuk mendukung gerakan Zionisme.


Azab Ariel Sharon, Hidup Dalam Keadaan Membusuk

Para dokter pernah memasukkannya ke ruang operasi untuk dilakukan pembedahan.

Sharon memiliki luka membusuk, lalu operasi dilakukan untuk menyambung bagian-bagian ususnya yang telah membusuk, dimana infeksinya telah menyebar ke bahagian tubuh lain.

Penyumbatan yang terjadi di otaknya menyebabkan kerusakan di sekujur tubuh Sharon, hingga membuatnya membusuk.

Sejak terserang stroke pada 4 Januari 2006 lalu, pertama kali ia dirawat di Rumah Sakit Hadassah Ein Kerem di Yerusalem dan kemudian di Chaim Sheba Medical Center di Tel Hashomer.

Menurut Komite Keuangan Knesset (Parlemen Israel), biaya untuk pengobatan Sharon setiap tahunnya berkisar antara 440 juta Dolar atau setara dengan Rp 4,25 triliun.

“Nyawa Sharon terancam,” kata juru bicara rumah sakit, Yael Bossem-Levy kepada kantor berita Associated Press, kala itu.

Saat itu usia Sharon sudah memasuki 85 tahun, kedua matanya dalam keadaan terus terbuka. 

Dokter-dokter yang merawat Sharon memberikan keterangan terkait kesehatan Sharon, saat ditanya sampai kapan keadaan Sharon akan terus menerus seperti itu, 

Shlomo Segev, dokter senior yang merawatnya mengatakan, “Kalau dikaji dari usia rata-rata di keluarga Sharon, ibu dan neneknya meninggal di usia 90an tahun”.

Ia kemudian memperkirakan Sharon akan tetap dengan keadaannya seperti ini hingga dia berusia di atas 90 tahun.

Sharon tergolek tak berdaya dengan bantuan berbagai alat medis yang tertancap ke tubuhnya, termasuk respirator, dalam ruangan khusus di Rumah sakit Tel Hashomer, sebelah timur Ibu Kota Tel Aviv.

Tidak ada upacara khusus, bahkan sekadar ucapan simpati saja tidak ada untuk lelaki yang kini berusia 85 tahun itu. 

“Besok (Sabtu pekan lalu) juga tidak ada upacara khusus. Semua orang telah melupakan dia,” ucap Raanan Gissin, yang merupakan bekas penasihat Sharon seperti dilansir Dilansir dari kabar.net.

Cobalah pegang tangannya, belai rambutnya yang memutih dan sapalah dia dengan bahasa orang Arab yang sangat dibencinya, “Kaifa haluk yaa Sharon?” (Apa kabarmu Sharon?)

Dia pasti tidak akan menjawab. Sebab itu hanyalah sebuah patung lilin dalam ukuran sebenarnya sebagai representasi dari Ariel Sharon. 

Seni instalasi karya Noam Braslavsky tersebut pertama kali ditampilkan di Galeri Seni Kishon di Tel Aviv.

“Sebagai seorang seniman, adalah hak saya untuk memilih tokoh ini dan membawanya kembali menjadi kepala berita utama (di media massa),” kata Braslavsky, perupa Israel yang bermukim di Jerman.

Saat Sharon terkena stroke, seorang kru televisi Israel berhasil merekam gambarnya yang sedang berada di belakang sebuah mobil ambulan, terbaring setengah duduk dalam keadaan sadar.

Itulah gambar terakhir dari Sharon yang dimiliki media. Sebab setelah itu, keluarga Sharon sengaja menutup rapat-rapat segala informasi tentang kondisi salah satu tokoh kontroversial dalam sejarah Zionis Israel itu.

Sementara Sharon palsu didatangi banyak pengunjung di Kishon Gallery, Sharon asli terbujur kaku tidak sadarkan diri beberapa kilometer jauhnya, di Chaim Sheba Medical Center, Tel Hashomer.


Beredar Kabar Kematian Ariel Sharon

Ariel Sharon yang biasa dipanggil Arik ini terkena penyakit stroke berat sehingga otaknya dibanjiri darah, sejumlah media internasional bahkan ada yang mengabarkan bahwa Sharon sudah meninggal dunia.

Tentu, hal ini wajar saja, sebab setelah sempat dinyatakan stabil pada 5 Januari 2006 lalu oleh tim dokter, saat itu di Rumah Sakit Haddasah, keesokan harinya ia dimasukkan lagi ke ruang operasi.

Pada hari keenam, Sharon sudah tidak sadarkan diri. Para dokter berupaya untuk membangunkannya dengan cara mengurangi dosis obat anastesi.

Sharon pun kemudian bisa bernapas sendiri dengan bantuan respirator, dia juga sedikit memberikan respon terhadap stimulus rasa sakit di lengan dan kakinya. Namun, dia tidak kunjung sadarkan diri.

Hari berganti pekan, pekan berganti bulan. Sharon sudah tidak lagi dikabarkan menderita pendarahan pada otaknya. Tetapi, berbagai infeksi telah menyerang organ-organ tubuhnya yang lain secara bergantian.

Dari otak, infeksi pindah ke paru-paru, ke ginjal, ke dalam darah, begitu seterusnya. Jantungnya yang diketahui bocor sejak sebelum koma, juga ikut memperburuk keadaan Sharon.

Tim dokter yang merawatnya hanya menyampaikan dua kabar tentang dia. Yaitu, kondisinya memburuk karena ada gangguan pada organnya atau stabil, tapi tetap dalam keadaan koma.


Penyebab Sharon Koma, Membusuk dan Meninggal

Sebelum ia jatuh koma, diisukan kabar dari asisten pribadinya bahwa tidur malamnya Sharon sering diganggu oleh satu mimpi yang sama, yang terus terjadi berulang kali.

Dalam mimpi itu, digambarkan bahwa Sharon ditangkap oleh para penduduk GAZA yang begitu marah dan dendam kepadanya, tentu karena tindakannya yang angkuh yang menyerang tanah Palestina.

Didalam mimpi itu pula, Sharon disiksa, dirantai tangan dan kakinya kemudian diarak sekeliling kota GAZA dan di masukkan kedalam api.

Mimpi itu mengganggu Sharon setiap malam hingga membuatnya jatuh koma. Tidaka ada yang tahu akan derita Sharon menanggung mimpi-mimpi itu kecuali asisten pribadi Sharon.

Asisten tersebut mengungkapkan mimpi-mimpi Sharon itu kepada khalayak di Israel pada tahun 2008. Khalayak di Israel telah menyiarkan berita tersebut, kemudian dikutip oleh media-media Asia Barat, seterusnya tersebar.

Demikianlah kita saksikan keadaan musuh Allah Subhanahu Wata’ala. Sharon merupakan musuh Islam yang sangat kejam dan gemar menumpahkan darah.

Penyumbatan yang terjadi di otaknya menyebabkan kerusakan di sekujur tubuh hingga membusuk, namun ia masih hidup.


Kisah Hidup Penjegal dari Beirut

Melansir Intisari Online, pada usia 14 tahun, Ariel yang menerjemahkan dukungannya terhadap Zionisme dengan cara menyerang rakyat Palestina itu mulai masuk organisasi bersenjata.

Ia bergabung dengan kelompok mafia Haganah dan beberapa tahun kemudian masuk satuan Infantri Israel, Brigade Alexandroni.

Sebagai militer yang gemar melakukan serangan brutal, Ariel yang kemudian menjabat komandan terus melancarkan teror terhadap rakyat Palestina.

Dalam berbagai pertempuran yang dialami, Ariel sempat terluka dan hampir saja tewas.

Karier militernya terus menanjak. Pada 1949 ia dipercaya memimpin unit intai tempur Brigade Golani.

Tak hanya berkarier di militer, tahun 1950 Ariel masuk Universitas Ibrani Yerusalem dan mengambil studi Sejarah dan Kultur Timur Tengah.

Karena konflik Israel-Palestina makin memanas setahun kemudian, Ariel aktif kembali di militer Israel dengan pangkat mayor dan memimpin unit khusus Unit 101.

Kobaran api membumbung tinggi seusai jet tempur Israel merudal gedung Al-Walid di Kota Jalur Gaza pada Kamis (13/5/2021) pagi. (AFP)

Unit pasukan khusus yang bertugas menyergap gerilyawan Palestina ini dikenal kejam. Pada 1953 mereka pernah membantai 69 penduduk Palestina.

Akibat peristiwa pembantaian itu, Ariel mendapat julukan baru, Penjagal dari Beirut.

Perang demi perang terus dijalani Ariel mulai dari perang di Terusan Suez (1956), Perang Enam Hari (1967), dan Perang Yom Kippur (1973).

Perang yang membuat nama Ariel Sharon naik turun itu rupanya membuat nasibnya tetap beruntung mengingat pangkat mayor jenderal berhasil disandangnya.

Foto Ariel yang bagian kepalanya terbalut perban saat bertempur di Terusan Suez bahkan menjadi simbol kekuatan militer Israel.

Usai perang Ariel terpilih sebagai anggota Knesset, semacam kabinetnya Israel.

Akan tetapi pada 1974, Ariel mundur dari Knesset sekaligus pensiun dari dunia militer.

Ariel lalu bergabung dengan partai politik yang selanjutnya menjadi kendaraannya meraih kekuasaan, yaitu di Partai Likud.

Selain aktif di partai, Ariel juga dipercaya sebagai Penasihat Keamanan Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin.

Tahun 1977, Ariel kembali ke Knesset dan menerima jabatan menteri pertanian.

Tahun 1981-1983 Ariel menjabat menteri pertahanan.

Pada periode itu perang antara Israel dan Lebanon kembali berkobar serta diwarnai peristiwa kelam, pembantaian 3.000 pengungsi Palestina di Kamp Sabra dan Shatila oleh milisi Phalangis.

Tentara Israel yang menyerbu Lebanon atas perintah Ariel dianggap gagal meyelamatkan pengungsi dan dituduh melakukan pembiaran terhadap pembantaian itu.

Nama Ariel Sharon kembali tercoreng dan pria yang telah dicap sebagai Penjagal dari Beirut ini memilih mengundurkan diri.

Tahun 1984, Ariel membuat manuver politik lagi dan bergabung di Knesset.

Sejumlah jabatan yang tak berkaitan dengan pertumpahan darah dipegang Ariel, antara lain menteri perindustrian dan perdagangan, menteri perumahan dan konstruksi, menteri infrastruktur, serta pada tahun 1998 menjabat menteri luar negeri.

Tahun 1999 ketika secara kebetulan Benyamin Netanyahu mundur sebagai ketua Partai Likud, Ariel maju menggantikannya.

Posisi itu membuat Ariel secara mulus menduduki kursi Perdana Menteri pada Februari 2001.

Sebagai PM, Ariel lagi-lagi membuat langkah kontroversial.

Ia membentuk koalisi persatuan nasional dan mendorong perdamaian Israel-Palestina.

Suatu langkah politik yang dahulu sangat diharamkannya. Ariel bahkan memerintahkan penarikan mundur pasukan Israel dari Jalur Gaza.

Langkah ini ternyata membuat Partai Likud terpecah.

Di Jalur Gaza sendiri, faktor keamanan mulai dipegang pejuang yang kemudian memperdaya Israel, yaitu Hizbullah.

Perpecahan Partai Likud membuat Ariel Sharon berang.

Tak lama kemudian, pada November 2005, ia membentuk partai baru bernama Kadima.

Langkah politik dan karier Sharon sebagai PM terhenti ketika pada bulan Desember, stroke menyerangnya.

Setelah lebih dari 100 hari terkapar tak sadarkan diri, posisi Ariel lalu digantikan wakil PM, Ehud Olmert.

Ketika pasukan Israel berhasil dipukul mundur Hizbullah dan PM Ehud Olmert harus bertanggungjawab terhadap kekalahan perang itu.

Ariel Sharon tidak tahu sama sekali.

Mantan jenderal yang terkenal kejam itu masih terkapar koma di rumah sakit militer, Sheba Medical Center.

Pada 11 Januari 2014 Ariel Sharon meninggal dunia dalam kondisi tragis setelah selama 8 tahun mengalami koma dan hidup dengan alat bantu pernapasan.


Sumber Rujukan


Show Comments

Copyright © 2021

Bisnissatu.com